- Admin Setda
- Read Time: 1 min

Purwodadi – Tuntutan efisiensi yang kini dihadapi birokrasi dinilai perlu diimbangi dengan perubahan pola pikir aparatur sipil negara (ASN), terutama dalam cara bekerja dan melayani masyarakat. Di tengah keterbatasan dan penyesuaian anggaran, pelayanan publik diminta tetap berjalan cepat, efektif, dan memberi dampak yang dirasakan masyarakat.
Pesan itu disampaikan Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Kabupaten Grobogan, Mochamad Fachrudin, saat memimpin apel pagi ASN di halaman Setda Grobogan, Senin (11/5/2026). Apel diikuti ASN di lingkungan Setda, Bapperida, BPPKAD, dan Satpol PP.
Dalam arahannya, Fachrudin menekankan pentingnya perubahan mindset ASN agar lebih adaptif terhadap tuntutan kerja saat ini. Menurutnya, birokrasi perlu mulai mengedepankan cara kerja yang efektif, responsif, dan berorientasi pada hasil, sebagaimana pendekatan manajemen yang berkembang di sektor swasta—New Public Management.
“Kita ini civil servant. Di tengah efisiensi, harus tetap efektif,” ujarnya.
Ia menilai masyarakat kini tidak hanya melihat hasil akhir pelayanan, tetapi juga proses dan pengalaman saat menerima layanan. Karena itu, hambatan-hambatan pelayanan yang tidak perlu diminta mulai dikurangi agar masyarakat dapat memperoleh layanan yang lebih cepat, jelas, dan nyaman.
Dalam kesempatan tersebut, Fachrudin juga menyoroti pentingnya optimalisasi fungsi resepsionis atau front office (FO) sebagai garda terdepan pelayanan publik. Menurutnya, petugas FO merupakan wajah pertama instansi pemerintah yang berhadapan langsung dengan masyarakat, sehingga cara menyambut, memberikan informasi, hingga mengarahkan tamu akan membentuk kesan awal terhadap kualitas pelayanan pemerintah.
Karena itu, petugas pelayanan diminta mampu bekerja ramah, sigap, komunikatif, dan memahami alur pelayanan dengan baik agar masyarakat tidak merasa dipersulit saat mengakses layanan pemerintahan.
“Perubahan itu harus bisa dirasakan masyarakat,” katanya.

Selain pelayanan, ASN juga diingatkan untuk menjaga disiplin, integritas, dan kejujuran dalam bekerja. Ia menilai posisi ASN yang selalu berada dalam sorotan publik membuat setiap perilaku aparatur mudah dinilai masyarakat.
Fachrudin juga menyinggung pentingnya membangun mentalitas kerja yang adaptif di tengah situasi yang serba terbatas. Menurutnya, tekanan dan keterbatasan justru sering memunculkan ide serta cara kerja yang lebih kreatif.
“Kadang saat kepepet justru muncul ide-ide yang sebelumnya tidak terpikirkan,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta ASN tetap menjaga kualitas kerja dengan prinsip tepat waktu, tepat mutu, dan tepat sasaran, sejalan dengan nilai dasar ASN yang adaptif dan berorientasi pelayanan.
Di sisi lain, ASN juga diingatkan untuk menjaga persatuan dan kesatuan serta lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial di tengah tingginya perhatian publik terhadap perilaku aparatur pemerintah.
Melalui perubahan pola pikir dan budaya kerja tersebut, pemerintah daerah berharap pelayanan publik tidak hanya berjalan administratif, tetapi semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat sehari-hari. (jsa)



