- Admin Setda
- Read Time: 1 min

Purwodadi— Rapat Anggota Tahunan (RAT) bukan sekadar agenda rutin, melainkan momen penting untuk meninjau arah dan kesehatan KPRI Praja Sejahtera. Dari forum ini, pengurus dan anggota menilai sejauh mana koperasi dikelola secara transparan dan memberi manfaat nyata bagi anggotanya.
Rabu (11/2/2026), Sekretaris Daerah Grobogan (Sekda) Anang Armunanto selaku pembina KPRI Praja Sejahtera menghadiri RAT Tutup Tahun Buku 2025 KPRI Praja Sejahtera yang digelar di UPTD BLK Grobogan. Dalam kesempatan tersebut, Sekda memberikan apresiasi kepada pengurus dan pengawas koperasi. Ia menekankan bahwa mengelola koperasi di tengah kesibukan tugas kedinasan bukanlah perkara mudah.
“Profesionalisme yang Bapak dan Ibu tunjukkan adalah fondasi utama kepercayaan anggota terhadap koperasi ini,” ujarnya.
Sekda Anang menyoroti disiplin pengurus dalam menyelenggarakan RAT tepat waktu untuk periode kepengurusan 2022–2025. Hal ini, menurutnya, menunjukkan pengelolaan koperasi yang tertib dan akuntabel, sekaligus menegaskan bahwa praktik profesionalisme menjadi kunci keberlanjutan organisasi.
Per 31 Desember 2025, KPRI Praja Sejahtera membukukan aset sebesar Rp16,79 miliar. Sekda menekankan bahwa angka ini mencerminkan potensi lembaga ekonomi bersama yang dikelola dengan sungguh-sungguh dan partisipasi aktif anggota. Meski demikian, RAT juga menjadi ruang evaluasi. Sekda mencatat adanya penurunan jumlah anggota dan pemanfaatan fasilitas kredit yang belum optimal sebagai tantangan yang perlu dicermati dan dicari solusinya.
Dalam arahannya, Sekda menekankan tiga hal utama.
Pertama, koperasi adalah milik bersama, sehingga partisipasi aktif anggota menjadi penopang utama. “Jangan hanya menjadi penonton, tapi jadilah pemilik yang kritis dan peduli,” ujarnya.
Kedua, adaptasi dan inovasi layanan menjadi penting agar koperasi tetap relevan dengan kebutuhan anggota. Sekda mencontohkan digitalisasi layanan agar anggota bisa mengecek saldo atau mengajukan pinjaman cukup melalui handphone, serta diversifikasi usaha yang sesuai dengan kebutuhan pegawai, termasuk kerja sama dengan marketplace atau penyedia paket voucher digital. Ia menegaskan, inovasi tidak harus mahal, tetapi harus solutif dan memudahkan anggota.
Ketiga, setiap kebijakan harus berorientasi pada kesejahteraan anggota, bukan sekadar keuntungan. Esensi koperasi, menurut Sekda, adalah menolong diri sendiri secara bersama-sama, sehingga anggota memiliki alternatif pembiayaan yang aman dan terjangkau ketika menghadapi kebutuhan mendesak.

RAT menjadi ruang bagi pengurus dan anggota untuk mengevaluasi perjalanan satu tahun terakhir, menata arah organisasi, dan memperkuat transparansi. Dengan pengelolaan yang tertib, inovasi layanan yang relevan, dan partisipasi anggota yang aktif, koperasi diharapkan terus tumbuh secara sehat dan tetap menjadi penyangga yang andal bagi kesejahteraan anggota.
Forum tahunan ini juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan koperasi bukan hanya diukur dari angka, tetapi dari kemampuan lembaga untuk tetap hidup, adaptif, dan relevan bagi setiap anggotanya. Nilai kebersamaan dan saling mendukung menjadi kekuatan utama yang membedakan koperasi dari lembaga keuangan lain, sekaligus menegaskan bahwa manfaat koperasi terasa langsung bagi mereka yang menjadi bagian di dalamnya. (jsa)



